Lompat ke isi utama

Berita

Waisak, Kebijaksanaan Demokrasi, dan Tanggung Jawab Mengawal Kehidupan Bersama

opini buddha

Di tengah dunia yang semakin riuh oleh perbedaan pendapat, derasnya arus informasi, dan menguatnya polarisasi sosial, perayaan Hari Raya Waisak menghadirkan ruang hening untuk merenung. Bagi umat Buddha, Waisak bukan sekadar peringatan atas kelahiran, pencerahan, dan parinibbana Sang Buddha. Waisak adalah momentum untuk kembali meneguhkan Dharma sebagai jalan moral dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.

Tahun 2026, perayaan Waisak mengusung tema "Dharma Sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan" dengan subtema "Cinta Kasih Sumber Perdamaian Dunia". Tema tersebut mengingatkan bahwa perdamaian tidak lahir dari kekuatan, melainkan dari kebijaksanaan. Perdamaian tidak tumbuh dari keseragaman, tetapi dari kemampuan menerima perbedaan dengan penuh kasih dan penghormatan.

Dalam tradisi Buddha dikenal semboyan yang akrab diucapkan umat Buddha, yakni "Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta", yang berarti semoga semua makhluk hidup berbahagia. Sebuah doa yang sederhana, namun mengandung pesan universal tentang penghormatan terhadap kehidupan, kesetaraan, dan kepedulian kepada sesama.

Jika direnungkan lebih jauh, nilai tersebut memiliki kedekatan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Demokrasi pada hakikatnya bukan hanya tentang memilih pemimpin atau mengikuti pemilihan umum. Demokrasi adalah cara hidup bersama yang mengakui martabat setiap manusia, memberikan ruang bagi setiap suara, dan menjamin bahwa setiap warga negara memperoleh hak yang sama tanpa diskriminasi.

Dalam kehidupan demokrasi, kebijaksanaan menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting dibandingkan kebebasan. Sebab kebebasan tanpa kebijaksanaan berpotensi melahirkan permusuhan, sementara kebijaksanaan tanpa kebebasan akan kehilangan ruang untuk tumbuh.

Saat ini masyarakat hidup dalam era digital yang memungkinkan siapa pun menjadi produsen informasi. Dalam hitungan detik, sebuah pesan dapat menyebar kepada ribuan orang. Namun tidak semua informasi membawa manfaat. Tidak sedikit informasi yang justru memicu prasangka, kebencian, bahkan konflik sosial.

Di sinilah nilai Dharma menemukan relevansinya. Kebijaksanaan mengajarkan manusia untuk berpikir sebelum berbicara, memeriksa sebelum membagikan, dan memahami sebelum menghakimi. Sikap tersebut sangat dibutuhkan dalam kehidupan demokrasi modern.

Sebagai lembaga yang bertugas mengawasi proses demokrasi, Bawaslu pada dasarnya tidak hanya bekerja mengawasi tahapan pemilihan. Lebih dari itu, Bawaslu mendorong tumbuhnya budaya demokrasi yang sehat melalui partisipasi masyarakat. Pengawasan partisipatif yang selama ini dikembangkan Bawaslu sesungguhnya berangkat dari keyakinan bahwa menjaga demokrasi merupakan tanggung jawab bersama.

Semangat itu memiliki irisan nilai dengan ajaran cinta kasih dalam Waisak. Ketika masyarakat berani melaporkan pelanggaran pemilu, menolak politik uang, melawan hoaks, dan menjaga kerukunan meskipun berbeda pilihan politik, sesungguhnya mereka sedang menunjukkan kepedulian terhadap kehidupan bersama. Mereka sedang merawat demokrasi agar tetap berjalan dalam koridor keadilan dan kemanusiaan.

Demokrasi yang berkualitas tidak hanya membutuhkan aturan yang baik, tetapi juga warga negara yang memiliki moralitas dan kebijaksanaan. Sebab sekuat apa pun regulasi dibuat, jika masyarakat membiarkan kebencian, intoleransi, dan ketidakjujuran tumbuh, maka demokrasi akan kehilangan ruhnya.

Waisak mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan diri sendiri. Kedamaian dunia berawal dari kedamaian batin. Keharmonisan masyarakat bermula dari kemampuan individu mengendalikan ego dan menghargai sesama. Dalam konteks demokrasi, pengawasan yang efektif pun bermula dari kesadaran warga untuk menjaga integritas dirinya terlebih dahulu.

Pada akhirnya, tema Waisak tahun ini mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan bukan sekadar pengetahuan, melainkan keberanian untuk memilih yang benar meskipun tidak selalu mudah. Cinta kasih bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata untuk menjaga kedamaian dan kemaslahatan bersama.

Ketika nilai-nilai tersebut hidup dalam masyarakat, demokrasi tidak lagi dipandang sebagai arena pertarungan kepentingan semata, melainkan sebagai ruang gotong royong untuk mewujudkan kehidupan yang adil, damai, dan bermartabat.

Sebagaimana doa yang selalu dipanjatkan umat Buddha, "Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta"—semoga semua makhluk hidup berbahagia. Dalam kehidupan berbangsa, harapan itu dapat diwujudkan melalui demokrasi yang dijaga bersama, diawasi bersama, dan dijalankan dengan moralitas serta kebijaksanaan demi kebaikan seluruh rakyat Indonesia.*

Penulis : Ridha Erviana (Staf Pranata Humas Bawaslu Kabupaten Blitar)