Lompat ke isi utama

Berita

Iduladha, Demokrasi, dan Kesediaan Berkorban untuk Kepentingan Bersama

opini

Hari Raya Iduladha selalu menghadirkan suasana yang khas. Takbir berkumandang, masyarakat berkumpul di masjid dan lapangan untuk salat Id, lalu bersama-sama menyaksikan proses penyembelihan hewan kurban. Di balik ritual yang tampak sederhana itu, sesungguhnya tersimpan pesan kemanusiaan yang sangat dalam: tentang keikhlasan, pengorbanan, dan tanggung jawab.

Kisah Nabi Ibrahim AS yang bersedia mengorbankan putranya karena ketaatan kepada perintah Tuhan bukan sekadar cerita sejarah keagamaan. Ia adalah simbol tentang kemampuan manusia untuk menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan pribadi. Pada titik inilah Iduladha tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan sesamanya.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, nilai pengorbanan tersebut menemukan relevansinya. Demokrasi yang kita jalani hari ini tidak lahir begitu saja. Ia tumbuh dari kesediaan warga negara untuk berbagi ruang, menghargai perbedaan, menaati aturan bersama, dan menempatkan kepentingan umum di atas ego kelompok maupun individu.

Sebagai warga negara, kita memiliki hak yang dijamin konstitusi. Hak untuk memilih dan dipilih, hak menyampaikan pendapat, hak memperoleh perlakuan yang sama di hadapan hukum, serta berbagai hak sipil lainnya. Namun demokrasi tidak dapat berjalan hanya dengan menuntut hak. Demokrasi membutuhkan keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Dalam konteks ini, semangat Iduladha mengajarkan bahwa setiap hak selalu diiringi tanggung jawab. Ketika seseorang menggunakan hak kebebasan berekspresi, misalnya, ia juga berkewajiban menjaga agar kebebasan tersebut tidak melukai hak orang lain. Ketika warga negara memiliki hak untuk menentukan pilihan politik, mereka juga memiliki kewajiban untuk menggunakan hak tersebut secara bertanggung jawab berdasarkan informasi yang benar, bukan hoaks atau ujaran kebencian.

Iduladha mengingatkan bahwa kehidupan bersama membutuhkan pengorbanan-pengorbanan kecil yang sering kali tidak terlihat. Mengantre dengan tertib, mematuhi aturan, membayar pajak, menjaga ketenteraman lingkungan, menghormati hasil pemilihan umum, hingga turut mengawasi jalannya demokrasi secara partisipatif merupakan bentuk-bentuk pengorbanan yang sesungguhnya menjaga kehidupan publik tetap berjalan.

Di tengah era digital saat ini, pengorbanan itu bahkan bisa berupa kesediaan untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi meskipun informasi tersebut sesuai dengan preferensi politik kita. Bisa pula berupa keberanian mengoreksi kelompok sendiri ketika melakukan pelanggaran. Sebab demokrasi yang sehat tidak dibangun oleh fanatisme, melainkan oleh integritas.

Semangat kurban juga mengajarkan distribusi keadilan. Daging kurban tidak hanya dinikmati oleh mereka yang berkurban, tetapi dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Di sana terdapat pesan tentang pemerataan, kepedulian sosial, dan keberpihakan kepada kelompok yang rentan. Nilai ini sejalan dengan cita-cita demokrasi yang tidak sekadar menjamin kebebasan, tetapi juga menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh warga negara.

Oleh karena itu, perayaan Iduladha dapat dimaknai sebagai momentum refleksi kebangsaan. Apakah kita telah menggunakan hak-hak sebagai warga negara secara bertanggung jawab? Apakah kita telah menunaikan kewajiban untuk menjaga kehidupan demokrasi yang jujur, adil, dan bermartabat? Ataukah kita masih lebih sering menuntut tanpa bersedia berkontribusi?

Pada akhirnya, demokrasi bukan hanya soal pemilihan umum atau pergantian kekuasaan. Demokrasi adalah budaya hidup bersama yang menuntut kedewasaan, kepedulian, dan kesediaan berkorban demi kepentingan yang lebih luas. Nilai-nilai itulah yang setiap tahun dihadirkan kembali oleh Iduladha.

Ketika gema takbir mengingatkan manusia tentang kebesaran Tuhan, semestinya ia juga mengingatkan kita tentang tugas sebagai warga negara: menjaga persatuan, menghormati perbedaan, serta mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Sebab sebagaimana makna kurban dalam ajaran agama, demokrasi yang berkualitas juga membutuhkan kesediaan untuk memberi, bukan hanya menerima.*

Oleh : Ridha Erviana (Staf Pranata Humas Bawaslu Kabupaten Blitar)